Pro Kontra Tradisi 'Muludan'

 

KAJIAN - Semua paham bahwa Maulud adalah bulan kelahiran Baginda Nabi Agung Muhammad SAW dan "Wong NU" paham bahwa ada tradisi di bulan Maulud mulai tanggal satu hingga tanggal dua belas. Masjid, musala/langgar/surau, majlis taklim, atau sejenisnya senantiasa melantunkan puji-pujian terhadap Baginda Nabi Agung Muhammad SAW. 


Setiap bakda magrib atau bakda isya, menggema bacaan syair Barzanji, Addiba' maupun Syarful anam. Bahkan, ada juga di pagi hari. Muludan merupakan momentum untuk memperbanyak sholawat kepada nabi dengan harapan agar menggebu dalam mencintai beliau Khairul Basyar, berharap berkah syafaat Beliau di hari akhir.


Muludan merupakan momentum mengenal pribadi Nabi yang agung lewat kisah nabawi.

Muludan juga momentum muhasabah agar menjadi pribadi yang lebih taat kepada Sang Pencipta.


Muludan merupakan momentum untuk berkumpul, bersilaturahmi bersama teman, saudara seiman dan sepaham agar persaudaraan lebih kokoh dan membaja.

Muludan juga merupakan momentum untuk syiar rahmatan lil alamin.


Muludan merupakan momentum untuk mempertahankan tradisi yang lebih baik, al muhafadhotu alal qodimissolih wal akhdzu bil jadidil aslah. Mempertahankan tradisi terdahulu yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.


Muludan merupakan momentum pembelajaran bagi generasi selanjutnya agar terjadi kesinambungan antara yang tua dan yang muda.


Apa salahnya mengambil sebuah momentum yang luar biasa hebatnya ini. So, mari berpikir, bersikap, dan mengambil bagian yang sekiranya baik dan mampu sesuai kondisi masing-masing.


Memang ada Sebagian saudara kita yang menganggap pembacaan sejarah nabi itu sebuah bid'ah  karena tidak pernah di lakukan di era nabi SAW. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi bahwa itu adalah perbuatan syirik karena tulisan di al barjanji mengkultuskan baginda Nabi SAW dan menyertakan hadits dhoif dan palsu.



Asyrokol badru Alaina, fakhtafat minhul buduru, Mitslakusnik ma roaina qottu ya  wajhassurur, Anta syamsun anta badrun, Anta nurun fauqu nuri, Anta iktsiru wagholi, Anta misbahussuduri.


Artinya : telah terbit purnama ditengah tengah kita, maka tertutuplah semua bulan purnama,

Engkau surya, engkau purnama, engkaulah cahaya di atas cahaya.


Menurut mereka, syair di atas dianggapnya syirik dan menuhankan nabi Muhammad SAW. Apalagi ungkapan cahaya di atas cahaya. Ungkapan itu hanya layak untuk allah SWT saja. 


Sepeti Firman Allah surat Annur: 35,

Allahu nurussamawati wal ardi matsalu nurihi kamisykattin fiha misbah, almisbahu fi zujajahtu ka annaha kaukabun durriyyu yuqoodu min syajarotin mubarokatin zaitunatin la syarkiyyatii wala ghorbiyyatin yakadu zaituha yudhi’u wal;aulam tamsashu naron nurun ala nurin yahdillahhulinurihi man yasya’u wayadribu llahul amtsalu linnassi wallahu bikulli syai’in alim.


Allah  (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya allah adalah seperti cahaya lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, (dan) kaca itu seakan akan bintang (yang bercahaya) seperti Mutiara, yang di nyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir2 menerangi, walaupun tidak di sentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis lapis ), Allah membimbing cahayanya siapa yang di kehendanki, dan allah memperbuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui  segala sesuatu.


Ingat bung, dalam tradisi arab, metafora dan simbul terhadap benda benda langit di maksudkan menumbuhkan kekuatan rasa cinta dan rindu terhadap orang yang di junjung, sebagaimana manusia merindukan hadirnya purnama.


Penulis Al Barzanji ( hidup di Madinah) ingin menyampaikan betapa pribadi Rosullah begitu agung dan penting bagi umat manusia hingga di gambarkan demikian.


Bila kita mempelajari ilmu sastra arab, Badi’ dan Bayan, maka bahasa metafora sangat lekat kuat di dalamnya, bahkan kekuatan bahasa sastra terletak di sana. 


Ringkasnya, di waktu muda kita sering menjunjung, menggombal orang/lawan jenis yang sangat kita cintai. Terkadang kita bersurat kepadanya dengan tulisan, “ kaulah bidadariku,…….”. Atau “ Kaulah Malaikatku…………”


Jika dinilai secara ilmiyah, kata kata itu jelas sesat atau mungkin syirik. Karena menentang kehendak allah bahwa bidadari adanya hanya di syurga, bukan di dunia. 


Malaikat adalah mahluk lain, bukan manusia.

Didalam teks al Barzanji ada lafadz 

Fa qoma ‘ala qodamaihi fi tsalatsin  wa masya fi khomsin wa qowiyat fi tis’in minas syuhuri bi fasihin nuthqi quwah.


Artinya: Rosulullah berdiri di atas kedua kakinya usia 3 bulan, berjalan usia 5 bulan dan fasih bicara di usia 9 bulan.


Memang ahli hadits tidak menemukan riwayat hadits semacam ini, validitas hadits banyak yang meragukan. Tetapi hadits semacam ini banyak disampaiakan oleh para ulama’ juga. Sehingga, menuai banyak perdebatan dan perbedaan pendapat. 



Ingat,Bung. Syeh Nawawi al Bantany, Seorang ulama’ Nusantara yang pernah menjadi guru besar di Makkah Saudi Arabiya adalah salah satu ulama’yang mendukung, membenarkan kejadian riwayat di atas. Beliau juga yang mensyarahi kitab Al Barzanji. 


Bagi saya, beliau sudah cukup untuk kita teladani dan ikuti pendapatnya. Meskipun ada sebagian hadits yang di anggap palsu. Tapi ada ulama’ besar yang meriwayatkannya. 


Ingat….. hadits yang di riwatkan Imam Assyafii sering juga di anggap Dho’if, sementara Imam Al Bukhori yang nota benya mengumpulkan banyak hadits Shohih pun bermadhab Imam Assyafi’i. 


Wal hasil, Al Barjanji, Addiba’, Syarful Anam adalah karya yang mengisahkan seseorang yang paling mulia di sisi Allah dengan nilai sastra yang amat tinggi. Senandung kita meluapan kerinduan, sholawat, dan salam di hari kelahirannya.


Wallahu a'lam bissawab, tulisan ini merupakan karya Farouq Barliyan, Klambu,  Agustus 2025. 

أحدث أقدم
Post ADS 1