Cegah Kekerasan Seksual, PP Putri Al Ma’ruf Bandungsari Gelar Seminar Tarbiyah Jinsiyah Bersama Nawaning Nusantara

Cegah Kekerasan Seksual, PP Putri Al Ma’ruf Bandungsari Gelar Seminar Tarbiyah Jinsiyah Bersama Nawaning Nusantara

GROBOGAN – Sebagai langkah konkret dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan bermartabat, Pondok Pesantren (PP) Putri Al Ma’ruf Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, menyelenggarakan Seminar Tarbiyah Jinsiyah pada Rabu (21/1/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara pihak pesantren dengan Nawaning Nusantara.


​Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB ini menghadirkan dua pemateri kompeten, yakni Ning Dewi Iklima dan Ning Fatma Farichah. 


Ratusan santri putri tampak memadati lokasi acara dengan penuh antusiasme untuk mendalami pemahaman mengenai nilai-nilai tarbiyah dan kepribadian islami, khususnya terkait kesehatan dan keamanan reproduksi dalam perspektif Islam.


​Membangun Kesadaran dan Membentengi Santri


​Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan bahwa Tarbiyah Jinsiyah bukan sekadar pendidikan seks, melainkan upaya pembinaan agar santri mampu menjaga kehormatan diri. Materi yang disampaikan mencakup tiga poin krusial:


  1. ​Pemahaman mendalam tentang definisi pelecehan dan kekerasan seksual, agar santri sadar bahwa kekerasan tidak hanya terbatas pada pemerkosaan, namun memiliki banyak bentuk lain yang tidak boleh dinormalisasi.
  2. Pengetahuan mengenai area pribadi (privasi) yang wajib dilindungi dan tidak boleh disentuh oleh orang lain.
  3. ​Identifikasi pelaku dan korban, sehingga santri dapat lebih waspada terhadap lingkungan sekitar.


​"Tarbiyah Jinsiyah ini menjadi bekal penting bagi santri dalam membentengi diri. Harapannya, santri putri ke depan harus lebih hati-hati menjaga diri, serta menjaga marwah dan martabat sebagai seorang wanita muslimah," ujar terang Ning Dewi Iklima. 



​Komitmen Menuju "Zero Case" Kekerasan Seksual


​Pihak pesantren menegaskan instruksi penting kepada seluruh santri putri: apabila melihat atau mengalami indikasi pelecehan, mereka didorong untuk segera melapor kepada pengurus, Ibu Nyai, atau Bapak Kiyai. 


Keterbukaan ini diharapkan dapat memutus mata rantai kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.


Sementara itu, ​Ning Fatma Farichah menyampaikan, kegiatan di PP Putri Al Ma’ruf ini menambah daftar panjang keberhasilan kampanye Nawaning Nusantara. Hingga saat ini, tercatat sudah ada seratusan titik pondok pesantren di Indonesia yang telah menyelenggarakan Tarbiyah Jinsiyah.


​"Ini membuktikan bahwa tidak sedikit pesantren yang berani membuka mata dan peduli untuk mewujudkan zero case Kekerasan Seksual (KS) di pesantren," tegas  Ning Fatma. 


​Ajakan Kolaborasi Nusantara


​Nawaning Nusantara terus membuka pintu kolaborasi bagi pondok pesantren di berbagai wilayah Indonesia. Dengan fasilitator yang tersebar di berbagai daerah di tanah air, pelaksanaan Tarbiyah Jinsiyah kini semakin mudah dijangkau.


​Upaya ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren tidak hanya fokus pada kecerdasan spiritual, tetapi juga peduli pada keselamatan dan kesejahteraan mental para santrinya. Mari bersama upayakan pesantren yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan seksual.


Editor : Rubadi

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1