NGARINGAN – Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Ngaringan sukses melaksanakan putaran keenam atau putaran terakhir rangkaian Safari Ramadhan dan Tarawih Keliling (TARLING) pada Ahad (9/3/2026).
Kegiatan penutup ini dipusatkan di Masjid Darul Muttaqin, Dusun Sono, Desa Bandungsari.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus MWC NU Ngaringan, Forkopimcam Ngaringan, pengurus Ranting se-Kecamatan, Badan Otonom (Banom), Lembaga NU, hingga Kepala Desa beserta perangkatnya.
Ketua Tanfidziah Ranting NU Bandungsari, Ustadz Ruswanto, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Sebagai ketua yang baru dilantik pada 8 Februari lalu, ia mengharapkan bimbingan berkelanjutan dari para senior.
"Untuk memajukan organisasi NU, khususnya di Ranting Bandungsari, saya sangat berharap bimbingan serta nasehat dari pengurus yang sudah lama berkiprah di Nahdlatul Ulama," ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Bandungsari, Ledy Heriyanto, memberikan apresiasi tinggi kepada MWC NU Ngaringan. Beliau juga mengucapkan selamat kepada ketua ranting yang baru dan berharap sinergi ini membawa dampak positif bagi kemajuan desa dan organisasi.
Mewakili Forkopimcam Ngaringan, Moh. Herlanto selaku Penyuluh Agama Kecamatan Ngaringan, membawa pesan penting terkait transformasi digital di lingkungan Kementerian Agama. Ia menjelaskan bahwa sejak 2024, Kemenag telah menerapkan sistem digitalisasi penuh.
Beliau menghimbau agar Majelis Taklim segera mendaftarkan diri ke Kemenag. Selain itu, ditegaskan bahwa mulai tahun 2025, seluruh Pondok Pesantren (Ponpes) wajib terdaftar secara resmi di database Kemenag untuk ketertiban administrasi.
Ketua Tanfidziah MWC NU Ngaringan, K. Abdul Rohim, mengucap syukur atas kelancaran program TARLING dari putaran pertama hingga keenam. Menjelang akhir Ramadhan, beliau berpesan agar warga Nahdliyin mengejar keberkahan Lailatul Qadar dan tetap menjaga kerukunan meski ada perbedaan.
"Tetap menerima perbedaan, walau kita berbeda," tegasnya. Beliau juga mengingatkan jamaah untuk mengutamakan bakti dan maaf kepada orang tua, khususnya ibu, sebelum menyambut Idul Fitri.
Sebagai bentuk tali asih, MWC NU Ngaringan menyerahkan kenang-kenangan berupa jadwal sholat abadi kepada Masjid Darul Muttaqin guna membantu akurasi penentuan waktu ibadah.
Memasuki sesi Mauidzah Hasanah, Mustasyar MWC NU, KH Sunardi Taslim, mengajak jamaah bernostalgia tentang perjuangan NU di masa lalu. Beliau menceritakan betapa sulitnya pendanaan organisasi di masa jabatan sebelumnya, di mana pengurus harus merogoh kocek pribadi atau sibuk mencari donatur untuk setiap acara.
"Berbeda dengan sekarang, kita sudah memiliki sumber dana tetap melalui Arwah Jama’ dan Kotak Koin NU yang menjadi tumpuan kegiatan organisasi," jelas beliau.
Diakhir tausiyah beliau berpesan agar jamaah tetap menjaga hawa nafsu guna menjaga kualitas puasa.
Acara ditutup dengan doa khidmat yang dipimpin oleh Wakil Syuriyah MWC NU Ngaringan, K. Ahmad Kharis, dan dilanjutkan dengan musyafahah (bersalam-salaman) sebagai simbol penguatan ukhuwah islamiyah.
Penulis: Kang Nur
Editor : Rubadi



