Silaturrahmi Keluarga Besar Syekh Jumadil Kubro di Ponpes Assalam Grobogan Dihadiri Ulama Malaysia

Silaturrahmi Keluarga Besar Syekh Jumadil Kubro di Ponpes Assalam Grobogan Dihadiri Ulama Malaysia

GROBOGAN - Kebanggaan atas garis keturunan ulama dan wali tak ada artinya tanpa kontinuitas akhlak. Tamparan keras bagi fenomena "numpang beken" nasab ini menjadi inti pesan dari silaturahmi keluarga besar Syekh Jumadil Kubro di Pondok Pesantren Assalam Kradenan, Kabupaten Grobogan, Senin (10/8/2026).


​Hadir langsung dari Malaysia, penasihat keluarga besar Syekh Jumadil Kubro, Sidi Ibrahim Al Malik, kehadirannya membakar semangat ratusan santri, kiai, serta jajaran DPC Naqobah Ansab Auliya Tis'ah (NAAT) Grobogan dan Garda Walisongo.


​Sidi Ibrahim melontarkan kritik menohok terkait cara pandang sebagian masyarakat terhadap trah leluhur. Menurutnya, memiliki sanad hingga ke sang wali pilar Nusantara, Syekh Jumadil Kubro, bukanlah panggung untuk memamerkan keagungan status sosial.


“Kalau tahu leluhur kita ulama atau wali, seharusnya kita makin merunduk. Nasab itu bukan tiket untuk menyombongkan diri, melainkan beban amanah untuk meneruskan ilmu, akhlak, dan perjuangan mereka,” terang Sidi Ibrahim penasehat Keluarga Besar Syekh Jumadil Kubro se-Asia Tenggara tersebut. 


​Ia meminta generasi muda berhenti terjebak dalam romantisme sejarah. Pengetahuan soal silsilah harus dikonversi menjadi aksi nyata, bukan sekadar modal kesombongan di media sosial.


“Nasab itu penting untuk dijaga karena di dalamnya terdapat sejarah keluarga dan perjalanan dakwah. Tetapi yang lebih penting dari sekadar mengetahui siapa leluhur kita adalah bagaimana kita mengambil teladan dari mereka,” ujar Sidi Ibrahim.


​Ketua DPC NAAT Grobogan, M. Nasrullah Djamaludin, menegaskan pencatatan nasab oleh NAAT bukan sekadar inventarisasi nama, melainkan ikhtiar membentengi generasi muda dari krisis moral.


“NAAT hadir bukan hanya untuk mencatat dan menjaga nasab, tetapi juga untuk membangun silaturahmi dan memperkuat persaudaraan. Nasab harus menjadi jalan untuk semakin mengenal para leluhur, menghormati perjuangan mereka, dan meneruskan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan,” jelasnya.


​Sementara itu, Pengasuh Ponpes Assalam Kradenan, Gus Syaidun, mengingatkan bahaya glorifikasi nasab tanpa bukti ikhtiar. Ia menilai pembahasan mengenai Syekh Jumadil Kubro perlu diarahkan pada upaya mengambil nilai-nilai perjuangan dan keteladanan.


"Jangan sampai bangga dengan darah ulama, tapi akhlaknya melenceng jauh. Yang terpenting adalah membumikan semangat dakwah mereka hari ini," serunya.


​Lewat forum bertajuk “Menyemai Suri Tauladan, Lentera Kekeluargaan” ini, silaturahmi lintas negara tersebut tak sekadar menyambung ikatan darah, melainkan mempertegas garis nasab tanpa akhlak hanyalah klaim kosong.


Rubadi


Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1