OPINI - Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober kembali dirayakan secara masif di berbagai daerah. Namun, di balik kemeriahan apel, kirab, dan pengajian, muncul dorongan agar peringatan tahunan ini tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan bertransformasi menjadi aksi nyata penanganan krisis sosial dan lingkungan.
Ketua Sahabat Tani Inovatif Nusantara, Nur Hisyam, menegaskan bahwa esensi dari peringatan Hari Santri harus diuji melalui dampak konkretnya terhadap masyarakat luas. Menurutnya, kejayaan identitas santri tidak boleh menutupi persoalan krusial seperti kemiskinan, krisis air, hingga kerusakan ekologis yang kian mengancam.
"Keberhasilan Hari Santri tidak cukup diukur dari jumlah peserta, megahnya panggung, atau ramainya publikasi. Pertanyaan terpenting adalah: berapa keluarga yang terbantu, berapa volume sampah yang berkurang, dan perubahan nyata apa yang bertahan setelah seremoni usai?" ujar Nur Hisyam.
Transformasi Perjuangan: Dari Senjata ke Aksi Ekologis
Sejarah mencatat, penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 berakar pada Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari pada 1945. Jika pada masa kemerdekaan santri berjuang mengangkat senjata melawan penjajahan, maka konteks perjuangan masa kini telah bergeser.
Pesantren kini dituntut untuk hadir menjawab tantangan zaman melalui:
- Pendampingan Ekonomi: Pemberdayaan petani, UMKM, dan bantuan masyarakat miskin.
- Aksi Tanggap Bencana: Respon cepat dan bantuan keberlanjutan bagi korban bencana alam.
- Kepedulian Ekologis: Perlindungan sumber air bersih, pengelolaan sampah, serta penghijauan.
Dengan modal sosial yang besar, jaringan alumni yang luas, dan pengaruh moral di tengah masyarakat, pesantren dinilai memiliki kapasitas besar untuk menjadi penggerak perubahan.
Mendorong Pesantren Sebagai Pusat Gerakan Lingkungan
Nur Hisyam menyoroti pentingnya peran pesantren sebagai perawat bumi (khalifah fil ardh). Dampak kerusakan lingkungan seperti pencemaran dan perubahan iklim dirasakan paling berat oleh kelompok miskin di pedesaan. Oleh karena itu, kesalehan individual harus diimbangi dengan kesalehan sosial-ekologis.
Beberapa langkah taktis yang dirancang untuk diterapkan di lingkungan pesantren antara lain:
- Pengelolaan Sampah Mandiri: Penyediaan tempat sampah terpilah dan pengolahan sisa makanan menjadi kompos.
- Ketahanan Pangan: Pembuatan kebun pesantren dan budidaya tanaman obat keluarga.
- Konservasi Air: Penghematan penggunaan air serta pembuatan penampungan air hujan.
"Islam mengajarkan bahwa kepedulian lingkungan dan sosial adalah bagian dari pengamalan ibadah. Peringatan Hari Santri hendaknya menjadi pintu masuk untuk menyusun program kerja sepanjang tahun, bukan agenda satu hari lalu selesai," tambah Nur Hisyam.
Diharapkan seluruh pemangku kepentingan di lingkungan pesantren dapat menggandeng pemerintah, perguruan tinggi, serta komunitas lokal untuk memperkuat program pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
Melalui pendekatan dari seremoni menuju aksi nyata serta dari kebanggaan menuju pengabdian, Hari Santri Nasional diharapkan mampu menghadirkan manfaat jangka panjang yang berdampak langsung pada kemandirian masyarakat dan kelestarian alam.
Penulis : Nur Hisyam



